Visiting the Top of Monumen Nasional

Yesterday my sister in law and her husband arrived in Jakarta. They just came back from Bali for training and decided to stay in Jakarta for 2 days before going back to their home town, Bukit Tinggi. This is the first time she’s visiting Jakarta so we’re thinking to take her to Jakarta’s Icon – no, not the shopping mall :p – the one and only Monumen Nasional (Monas).

monas from wikipedia

Plus, my mom is here as well and she has always wanted to go up to the top of the Monument. Last time we went there in 2012, the queue is too long and we didn’t manage to go up. So today we depart a bit early to avoid long queue.

We arrived there around 10 am and yet the queue at the ticket box is pretty crowded already and the queue on the entry point to the elevator is even more packed! (-_-)’

Luckily, at the end we’re able to go to the Top ūüôā

Some highlights:

  • The ticketing is now using JakCard issued by Bank DKI which can be bought at the ticket box at Rp30,000 (card price of Rp10,000 + deposit of Rp20,000). The ticket price per pax is Rp5,000 for entering the goblet plus another Rp10,000 if you want to go up to the top of Monas. 1 card can be used for 1 group of people, we just need to top up the deposit at the ticket box. The thing is, we actually already HAVE this JakCard thing, but we left it in the car because we didn’t know about this new ticketing system. We knew it only after we approaching the ticket box, zzzz. If only they announce it in the parking lot area, we would bring our own card and save 20 minutes queuing at the ticket box.
  • It took us 2 hours queuing for the elevator to take us up! Yes, you read it right: TWO HOURS!! And it’s pretty tough because Bum refused to queue by himself so Beni and I have to take turn carrying him all the time ūüė¶ At the 1st one hour I almost gave up because I’m tired and hungry (it’s lunch time already, people!). But luckily I have a strong-willed mom and in laws, so we didn’t give up and holding on for the next one hour. Another plus side is that the queue is quite orderly, no drama of people cutting the queue, which makes the 2 hours felt bearable.
  • The bottleneck is the small capacity of the elevator, only for 10 people per trip! But there’s nothing we can do about it, right? Because it’s impossible to enlarge the hollow of Monas in order to expand the elevator. But I think we can do something for the long queue. Something like online reservation to go up, or setting a specific time to go up at the ticket box so that people can do something else other than wasting 2 hours queuing.
  • DO bring some snacks and water while queuing!
  • The top of Monas is a bit small, outdated and very windy! You can see 360 degree view of Jakarta, which is pretty good, but not so spectacular, I would say.

So, one bucket list checked, but will I visit Monas again? Yes, but maybe during the night time because the view up there would look more awesome, I think, and when Bum is done with this refuse-to-walk phase ūüėÄ

earth hour report from Petronas Tower,,

earth-hour_1

– the famous Petronas Tower, right before the earth hour time,, –

earth-hour_2

– First black out-

earth-hour_3

– Second one –

earth-hour_4

– Finally,, –

earth-hour_6

– the crowds, cheering for the earth. Yippie !!¬†–

The next question is: if we can do it for this night, why can’t we do it for tomorrow and for the rest nights of our life? Just one hour is not that hard, rite ??!

manado – bunaken [part 1]

Setelah direncanakan dengan cukup matang akhirnya kami jadi juga pergi ke manado. Padahal sebelumnya rencana ini hampir gagal gara-gara pembatalan tanggal 2 mei sebagai cuti bersama, tetapi akhirnya kami bertekad untuk membolos saja, wong tiketnya sudah terlanjur dibeli, hehe,,

[30 April 2008]

 

Pagi-pagi buta saya sudah harus bangun untuk menyiapkan keperluan rapat nanti siang. Jam 6 pagi meluncur di jalanan Balikpapan yang licin akibat hujan deras semalam. Tak ketinggalan pula angin super dingin yang dengan jahatnya bertiup cukup kencang. Wussshhh, brrrr,, membuat saya semakin malas untuk pergi rapat.

 

Pesawat yang saya naiki berangkat dari Sepinggan sekitar jam 7 pagi dan sampai¬†di Jakarta jam setengah 9. Sesampainya di Jakarta saya¬†langsung menuju ke Mal Ambassador. Niatnya sih¬†ingin¬†mencari “sesuatu”, tetapi berhubung¬†gerai-gerainya masih tutup,¬†jadi saya sarapan¬†saja disana. Setelah sarapan dan puas naik¬†turun tangga Ambassador, saya memutuskan untuk segera pergi dan meluncur menuju Grogol. Di¬†Grogol saya ke Sea Pearl¬†untuk membeli¬†hood, tutup kepala yang¬†biasa digunakan oleh¬†para penyelam. Hood ini nantinya akan dipakai¬†oleh my¬†partner in crime yang berjilbab. Tanpa¬†hood dia¬†tidak bisa ikut diving. Makanya deh saya bela-belain¬†jauh-jauh ke Grogol¬†untuk membeli¬†si hood itu (tuh kan Ras, kurang baik apa¬†gw sama lo? hehe,,).

 

Dari Grogol menuju Gatot Subroto ternyata macet gila. Untunglah sopir taksinya sangat lihai, seradak-seruduk sana-sini sehingga sampailah saya di gedung biru dengan tepat waktu. Lalu, layaknya seorang utusan yang baik, saya mengikuti rapat dengan antusias (meskipun dalam hati saya deg-degan takut rapatnya kelamaan sehingga bisa-bisa saya ketinggalan pesawat, huhu..). Alhamdulillah rapatnya berjalan lancar dan  efektif. And Thanks God, rapatnya selesai jam setengah 4 sore, tidak lebih. Selesai rapat saya langsung pergi lagi ke Cengkareng, berharap-harap cemas semoga jalanan menuju bandara tidak macet. Eh ternyata perjalanan menuju bandara amat sangat lancar, tidak macet sedikit pun dan saya pun sampai di bandara terlalu awal, sekitar satu setengah jam sebelum boarding, hehe.. Tapi tak apa lah, daripada terlambat.

 

Jam 6 sore pesawat take off menuju Balikpapan. Sampai di Balikpapan jam 9 malam lalu transit dulu di sana sekitar 30 menit. Di Sepinggan lalu bertemu Saras yang sudah berbaik hati membawakan tas pakaian saya (makasi ya jong!!). Pesawat lalu berangkat ke Manado dan kami sampai jam setengah 12 malam. Di bandara Sam Ratulangi kami dijemput oleh Alex, bagian reservasi Bastianos diving resort. Alex ini korban yang selama ini sering dicerewetin via telepon oleh saya dan Saras, dua perempuan yang tak henti-hentinya bertanya dan banyak maunya, hehe.. (tengkyu ya Lex !!). Oleh Alex kami langsung diantar ke hotel di Manado untuk menginap selama satu malam karena kami baru bisa berangkat ke Bunaken besok pagi.

 

Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh dan melihat-lihat¬†Manado di waktu malam, sampailah kami di hotel yang dimaksud. Begitu¬†sampai, kami sempat agak shock melihat hotelnya. Yaaah,¬†meskipun awalnya saya lah yang¬†bersikeras untuk dicarikan hotel yang¬†murah, tapi saya¬†tidak menyangka hotelnya akan “gini banget”. Hmm, bagaimana mendeskripsikannya yah? Hotelnya gak jelek-jelek¬†amat sih,¬†hanya saja¬†auranya tidak menyenangkan. Yah, mirip hotel¬†remang-remang gitu deh, hehe,, Tapi ya sudahlah, dari awal kan¬†berniat untuk irit, jadinya kami¬†terima saja. Lagipula cuma¬†untuk satu malam.

Dan setelah satu hari yang sangat melelahkan ini, kami pun tidur dengan nyenyak, bersiap untuk pengalaman seru di esok hari..

to be continued,,