the question,,

IMG_1232.JPG

One said that to travel is to see, to taste, to smell, to listen, and to experience; using all of our senses to live up the journey.

But what I’ve been doing here for the last 2 years is more than just that kind of travelling.

I’m here to forget.

~oOo~

After finishing my study in Paris, I decided to stay here. I then met Tony, the owner of the fruit store where I worked now. I also managed to get a job as a freelance writer for some magazines, writing mostly about art and tourism.

Everything was just fine. Until yesterday.

I received an email.

An email that will make me forget to forget.

A wedding invitation.

~oOo~

So here I am, sitting on the riverside. Eating strawberries with million crazy ideas buzzing in my head.
Tony approached me.
“We’re supposed to sell those strawberries, not eat them, you know?” Tony teased me.
“I know. Do you want some?” I asked. With still some smile on my face.
“Absolutely! Those strawberries are good, right?”
“Best one in town, hehe,,”
“So, wanna share me about what happened? You kept silent since yesterday. Did something bother you?”
I handed to him the invitation.
“What is it?”
“A wedding invitation”
“One of your friend’s?”
“Him”
Reza?”
I nodded.
“Hmm. So, he will finally marry to that girl? What’s her name again? Bella?”
“That’s the correct name, but apparently it’s not her that he will be married to.”
“What? Aren’t you leaving him so that he can be with Bella?”
“Yep”
“Oh, wow. Not as expected, eh?”
“And I need to know the reason why he did that”
“What? Oh, no, no. You’re not thinking to go back and see him, aren’t you?”
I nodded again.
“Are you crazy? The tickets will cost you all of your savings! Hell, You might not be able to buy the return ticket!”
And I nodded once again.
“Oh, Nis. You don’t have to do this, you know. You will get hurt again”
“…”
“Nis?”
“I want to do this, Tony. I NEED to do this. I need to ask him the question”
“So this means goodbye to me”
I nod again.
He hugged me.
I cried.

Advertisements

the answer,,

Wushhh,,

Hembusan angin semakin kencang menerpa diriku, membuatku yang sudah basah kuyup akibat kehujanan semakin menggigil kedinginan.

Kurapatkan mantelku, kupercepat langkahku. Aku tidak boleh terlambat. Paling tidak untuk hari ini. Untuk saat ini. Karena aku harus mendapat jawabannya. Segera.

Kubuka pintu kafe itu. Kusapu seluruh meja dengan pandanganku. Tidak ada. Dia belum datang.

Seorang pelayan menghampiriku, menanyakan meja mana yang akan kupilih.
“Satu meja untuk dua orang saja, di tempat yang tidak terlalu ramai ya Mbak,” jawabku.

Aku pun duduk. Sengaja kupilih kursi yang menghadap ke jendela karena ku tahu, aku tak akan bisa menatap matanya nanti. Bukan, bukan tidak bisa, tapi tidak mau.

–oOo–

Jam di dinding menunjukkan pukul 16.05. Dia terlambat. “Ah, mungkin dia terkena macet di jalan”, pikirku.

16.30. Dia masih belum datang. Aku pun memutuskan untuk memesan gelas kedua. Air putih, satu gelas lagi, untuk meredam gugupku.

16.45. Kafe itu menjadi semakin ramai dan aku pun menjadi semakin gelisah.

17.00. Lonceng yang menempel di pintu kafe berdentang untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya pula kepalaku menoleh; mencoba melihat siapa yang datang.

Dan kulihat dia berdiri di sana. Rambut ikalnya sudah tumbuh semakin panjang, membuatnya terlihat semakin cantik. Dia mengenakan mantel berwarna hijau tosca, warna favoritnya, senada dengan bando yang ia kenakan.

Kulambaikan tanganku ke arahnya, dia pun membalas lambaianku dengan senyum. Dia berjalan menghampiriku dengan setengah meneriakkan namaku, “Nisaaa !!”. Aku pun balas menyapanya, “Bellaaaa !!”. Lalu kami pun saling bersalaman dan ber cipika-cipiki. Aku yakin saat itu semua orang di kafe memperhatikan kami, turut gembira atas sebuah reuni dari dua orang gadis yang bersahabat dekat.

Layaknya dua orang sahabat yang sudah tidak bertemu selama tiga tahun, kami pun mulai saling bercerita. Saling menimpali celotehan masing-masing, memberi komentar atas segala pengalaman hidup kami. Sampai akhirnya sampailah kami pada topik itu. Kami pun saling bertanya, “Gimana, sudah ada calon?”. Dia menjawab, “masih jomblo nih Nis”. Dan aku pun menjawab, “samaaaa donk, hehe..”. Kami pun terbahak-bahak bersama, menyadari bahwa peruntungan asmara kami masih sama seperti tiga tahun yang lalu.

Tapi aku berbohong, dan aku pun tahu dia berbohong.

Setelah puas tertawa kami pun terdiam. Terdiam dalam canggung.

Lalu aku pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan ini.

“Bel, aku mau nanya sesuatu, boleh?”

Bella hanya menatapku dengan mata sendunya sambil mengangguk lemah. “Boleh”, katanya.

“Aku mau nanya soal Reza, Bel.”

Reza. Teman satu kampusku saat ini.
Reza. Pria yang sedang dekat denganku selama 3 bulan terakhir.
Reza. Pria yang kutahu pernah dekat dengan Bella, dulu.

“Kenapa Nis?”

“Aku sekarang lagi deket ama dia, Bel.”

“Aku tahu,” jawabnya. Entah mengapa, aku tak terkejut mendengar jawabannya dan dia pun sama sekali tidak terkejut ketika mendengar pernyataanku. Seolah kami berdua sama-sama tahu, bahwa topik ini akan muncul hari ini. Dan hari ini pun, aku harus mendapat jawabannya.

“Aku perlu tahu, apa masih ada sesuatu yang belum selesai di antara kalian?”

–oOo–

Kami bertiga dulu sama-sama kuliah di Bandung dan sama-sama bertemu di klub baca di kampus. Aku dan Bella sudah bersahabat sejak SMA. Awalnya kami tidak terlalu mengenal Reza karena bagi kami berdua yang hiperaktif ini, Reza terlalu pendiam untuk dijadikan teman.

Akhir tahun keempat aku sudah mulai sibuk dengan skripsiku, meninggalkan semua kegiatan sampinganku, termasuk meninggalkan klub baca, dan meninggalkan Bella. Kami sibuk dalam dunia masing-masing.

Sebelum lulus, terakhir kudengar Bella sempat dekat dengan Reza. Tapi hanya dekat saja, tidak sampai pacaran. Karena ku tahu, Reza bukan lah tipe pria yang disukai oleh Bella. Dia terlalu pendiam. Lagipula, setelah lulus mereka terpisah. Reza mendapat beasiswa S2 di Perancis, sedangkan Bella memutuskan untuk meneruskan studi di Jakarta. Jadi, aku berasumsi bahwa, kalaupun ada, kedekatan mereka hanyalah cinta kilat. Instan dan hanya bertahan 3 bulan. And besides that, Bella is one of the most wanted girls in town. Jadi aku yakin Bella akan cepat menemukan pengganti Reza.

Tapi ternyata dugaanku salah. Hubungan mereka ternyata terus berlanjut. Sejak akhir tahun keempat itu, mereka tetap berhubungan, hingga kira-kira satu bulan yang lalu..

–oOo–

Satu tahun yang lalu, aku dan Reza bertemu di sebuah kafe di pinggiran Paris, ketika dia dengan cerobohnya menumpahkan kopi di atas buku yang sedang kubaca. Dia pun meminta maaf dengan sangat atas insiden ini. Dan aku pun memaafkannya. Dan kami pun berkenalan ulang karena kami kan memang sudah kenal sebelumnya.

Kami berdua mengambil program S2 di kampus yang sama di Paris, tapi karena jurusan kami berbeda, kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Selain itu, Reza jarang mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh ikatan mahasiswa Indonesia di Paris. Dia memang pendiam dan, kalau boleh dibilang, sedikit antisosial.

Berhubung kami berdua sama-sama penggila buku, kami pun mulai bertukar buku dan berbalas email. Saling berkomentar mengenai buku yang baru dibaca ataupun bertukar resensi mengenai buku yang wajib dibaca. Terkadang kami pun melakukan kopi darat, berdiskusi berjam-jam mengenai sebuah buku sambil menyeruput secangkir kopi di kafe di pinggiran Paris. Di kafe yang sama tempat dia menumpahkan kopinya dulu. Dan dari diskusi-diskusi itu, terkuaklah dua rahasia besar: Reza memang pintar dan ternyata dia (ehem) menarik.

Sampai akhirnya tiga bulan yang lalu email-email yang dikirim bukan lagi sekedar berisi resensi buku. Dia mulai menanyakan hal-hal yang lebih nonesensial, seperti “Kamu udah makan belum?” atau “Nanti malam begadang lagi di Lab? Pulang sama siapa? Mau diantar?”. Ya, sejak tiga bulan yang lalu, Reza sudah menjadi bagian dari keseharianku, di samping makan, tidur, dan mengerjakan thesis.

–oOo–

Bella pun kembali bercerita. Ketika mereka berdua tahu bahwa Reza harus berangkat ke Perancis, hubungan mereka menjadi lebih sulit. Selama satu tahun setengah Reza berulang kali menyatakan perasaannya kepada Bella. Tapi Bella terus menolak. Bella tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Bella perlu kehadiran Reza di sampingnya.

Selain itu, Bella juga tidak bisa terima perasaan bahwa dia selalu dinomorduakan oleh Reza. Selama dua tahun menjalani hubungan dengan Bella, Reza hanya beberapa kali mengunjungi Bella di Jakarta. Reza pun jarang sekali menghubungi Bella. Setiap Bella menelepon, Reza selalu bilang kalau dia sibuk. Sibuk dengan kuliahnya, dengan tugas-tugasnya, dengan bisnis kecil-kecilannya. Situasi semakin memburuk. Hingga akhirnya Reza tiba-tiba menghilang. Reza tiba-tiba menyerah.

Namun Bella tidak bisa terima. Bella sudah terlanjur sayang kepada Reza. Semenjak Reza menghilang, Bella terus berusaha menghubungi Reza, tetapi tidak berhasil. Bella pun mencoba menghubungi keluarga dan teman-teman Reza, tetapi tak satu pun bisa membantu Bella. Bella pun menyerah. Bella frustasi. Bella sakit hati.

Sampai satu bulan yang lalu, Reza tiba-tiba menghubungi Bella.

Reza dan aku sedang sama-sama pulang ke Indonesia untuk menghabiskan liburan di sini. Reza pulang ke rumahnya di Jakarta, sementara aku pulang ke Bandung.

Di Jakarta ternyata Reza mengajak Bella bertemu, tapi Bella menolak. Bella sudah terlanjur sakit hati.

Namun, sampai hari ini, aku yakin Bella tak dapat membohongi perasaannya sendiri.

“Aku sayang banget sama Reza, Nis. Dia baik banget,” ujarnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Terus, kenapa kamu gak mau ketemu sama Reza?”

“Gak tau Nis. Aku ngerasa belum siap. Dan aku pun tahu Reza belum siap untuk ketemu aku.”

Dan aku pun tahu, aku tidak siap.

Mengingat sejarah panjang yang telah mereka lalui. Mengingat betapa gigihnya perjuangan Reza untuk mendapatkan Bella. Mengingat betapa Bella sangat menyayangi Reza. Aku bisa membayangkan akan jadi apa pertemuan itu nanti. Reuni sepasang kekasih tentu saja. Dan aku pun akan kembali terlempar dari kehidupan Reza.Kehidupan yang sangat aku nikmati selama tiga bulan terakhir. Kehidupan yang tidak pernah aku rasakan sejak bertahun-tahun lamanya.

Dan Bella pun menangis.
Dan aku pun memeluknya.
Dan aku pun berkata, “tenang aja ya Bel. We’ll find a way.”

Aku pun meninggalkan Bella di kafe itu, membayar tagihannya dan berjalan kaki menuju ke rumah.

Di tengah segala pikiran yang berkecamuk di otakku, tiba-tiba ada sms yang masuk.

Dari Reza.

Bonjour mademoiselle. Masih di Bandung? Besok aku ke Bandung juga, kangen makan mie di Wale. Wanna join?”

Dan aku pun membalas sms itu…

–oOOOOo–

Nah, menurut kamu, apa yang harus Nisa lakukan?

a) Berlaku layaknya teman yang baik, yaitu mengatur agar Reza & Bella bertemu untuk menyelesaikan masalah di antara mereka. Meskipun akibatnya Nisa bisa kehilangan Reza, tapi itu lebih baik daripada Nisa harus terjepit di antara dua orang teman dekatnya.

b) Bertemu Reza dan mengatakan bahwa dia sudah mendengar cerita versi Bella dan dia akan meminta Reza untuk menceritakan versinya sendiri. Nisa akan menyerahkan keputusan kepada Reza karena toh Reza sudah cukup dewasa untuk memilih.

c) Be a heartless bitch. Tidak akan bilang kepada Reza bahwa dia sudah bertemu dengan Bella. Tetap meneruskan hubungan dengan Reza dan memutuskan akan mengambil kesempatan untuk berbahagia dengan Reza.

hmm,,