cerita tentang si usus yang buntu,,

cerita tentang si usus yang buntu ini dimulai di hari senin yang cerah ceria,,

senin, 15 des 2014

pagi-pagi treadmill dan sepedaan statis di gym kantor. peres keringat dulu sebelum sarapan bubur ayam yang akhirnya disesali karena porsinya alamakjang besar dan membuat perut terasa penuh & sedikit kembung.

menjelang siang perut terasa semakin kembung dan ada sedikit nyeri di perut bagian kanan bawah. diagnosis pertama adalah kekenyangan masuk angin. diagnosis kedua adalah nyeri salah urat akibat kegiatan angkat beban minggu lalu. karena nyerinya tidak signifikan, dicoba untuk tidak dirasakan dan hari pun dijalani seperti biasa. oya, selain rasa nyeri di perut, gigi bagian depan bawah pun terasa ngilu. entah ada hubungannya atau tidak, tapi rasa ngilu ini cukup mengganggu sehingga dibuatlah janji temu dengan dokter gigi untuk hari Kamis siang.

sampai malam perut sudah tidak terlalu kembung, tetapi rasa nyerinya tetap ada. rasa ngilu di gigi pun masih ada.

selasa, 16 des 2014

rasa nyeri tetap ada, terutama ketika menarik napas panjang, menguap ataupun ketika bersin. hari tetap dijalani seperti biasa karena nyerinya tidak mengganggu dan masih berharap bahwa besok nyerinya akan hilang dengan sendirinya.

rabu, 17 des 2014

bangun pagi-pagi rasa nyerinya masih ada. mulailah khawatir karena berarti sudah 3 hari sejak rasa nyerinya muncul.

pagi hari dihabiskan dengan rapat di wisma mulia. selepas rapat minta di-drop oleh supir kantor di rs mmc untuk periksa ke dokter umum.

setelah dilakukan pemeriksaan, terdapat 3 dugaan: usus buntu, radang usus, atau ada infeksi di hati 😦 oleh bu dokter kemudian diminta tes darah untuk mengecek adanya infeksi dan rontgen perut (appendicogram) untuk mengonfirmasi apakah benar usus buntu atau bukan.

rontgen perutnya sendiri ternyata harus dilakukan 2 kali. siang ini rontgen biasa, lalu besok pagi rontgen diulang setelah mengonsumsi cairan kontras (barium). bariumnya sendiri berupa bubuk putih dengan aroma vanila dan rasa tawar, harus diminum 12 jam sebelum jadwal rontgen kedua.

kamis, 18 des 2014

pagi hari mampir ke kantor untuk mengecek beberapa pekerjaan.

sekitar jam 9 ke rs mmc lagi untuk rontgen kedua. masuk ke ruang rontgen dan ternyata menurut petugas cairan kontrasnya belum turun ke usus besar sehingga saya diminta untuk minum air banyak-banyak lalu menghabiskan waktu dengan jalan-jalan selama 1 jam. si 1 jam dihabiskan dengan berjalan-jalan santai di area mall epicentrum yang masih sepi karena memang belum buka dan belanja buah di farmers market. suasana hati masih santai saja karena masih berpikir bahwa nyerinya tidak terlalu parah kok.

jam 10 masuk ruang rontgen lagi dan alhamdulillah cairan kontrasnya sudah mengisi usus besar sehingga bisa langsung difoto. hasil rontgennya baru bisa diambil 1 jam lagi, jadi saya memutuskan untuk langsung ke klinik dokter gigi saja yang lokasinya di menara kuningan dengan naik bus transjakarta.

jam 11 bertemu dengan dokter gigi dan ternyata si rasa ngilu pada gigi depan bawah disebabkan oleh adanya makanan semacam cabe yang terselip di antara 2 gigi! malu deh! *tutup muka* blame it on bubur ayam’s sambel!! begitu si cabenya diambil, voila, hilanglah rasa ngilu tadi 🙂

jam 12 kembali ke rs mmc, mengambil hasil tes darah dan rontgen lalu mengantri di poli dokter umum sambil minum susu ultra gratisan yang diambil dari klinik dokter gigi. selama menunggu sempat melihat hasil tes darah yang menyatakan bahwa nilai hs-CRP kuantitatif jauh di atas batas normal 3 mg/L. hasil browsing singkat, parameter hs-CRP kuantitatif ini menunjukkan tingkat infeksi sehingga jika nilainya tinggi maka infeksinya cukup parah. di titik ini mulai khawatir dan asumsi hanya salah urat pun bubar jalan yaa, hiks. there must be something wrong here.

setelah melihat hasil tes darah dan rontgen, pak dokter langsung mengonfirmasi bahwa penyebab rasa nyeri di perut memang usus buntu. hasil rontgen menunjukkan dengan jelas bahwa cairan kontras yang memenuhi usus besar tidak masuk sama sekali ke area usus buntu sehingga disimpulkan bahwa usus buntunya tersumbat dan kemungkinan sudah membengkak/meradang. dan saya pun mulai lemas.

tanpa ba bi bu, pak dokter langsung meminta saya untuk menemui dokter bedah agar operasi pengangkatan usus buntunya bisa segera dijadwalkan.

langsung sms suami untuk mengabarkan tentang hal ini. saya pun diantar ke ruang tunggu dokter bedah oleh susternya. melihat wajah saya yang mungkin agak panik, suster mencoba menenangkan dengan menjelaskan bahwa operasi usus buntu merupakan operasi kecil, apalagi jika menggunanakan teknik laparoskopi maka luka sayatannya akan sangat kecil. saya hanya bisa tersenyum dan menarik napas panjang.

menunggu dokter bedah dengan hati was was. suamipun datang untuk mendampingi. di ruang dokter bedah saya diperiksa lagi dan dokter pun mengonfirmasi lagi bahwa memang diagnosis nya usus buntu. dan tanpa tedeng aling-aling beliau berkata, “operasinya siang ini ya. kita pakai laparoskopi, paling hanya dilubangi sekitar 0.5 cm.” meskipun kaget, saya mengiyakan saja karena kalau ditunda-tunda ada resiko usus buntunya pecah dan infeksinya dapat menyebar kemana-mana.

and i suddenly cried T_T seumur-umur belum pernah dioperasi dan aku takuuut sama bius totalnya, hiks,,

suami lalu mengurus administrasi untuk operasi dan rawat inap. sementara saya diminta untuk melakukan rontgen rongga dada sebagai persiapan operasi.

jam menunjukkan 13.30. perut terasa agak lapar karena memang belum makan siang. tetapi karena akan dilakukan operasi jam 15.30 nanti, perut tidak boleh diisi dulu.

jam 14.00 tiba-tiba dipanggil ke ruang operasi untuk konsultasi dengan dokter anestesinya. masuk ruang operasi dan langsung diminta ganti baju dengan baju operasi. saya pun bertanya, “bukannya operasinya jam 15.30 ya, sus?”. dan mbak suster pun berkata, “jadinya langsung operasi sekarang”. what?!!!!! langsung deg-degan, hiks,,

ganti baju operasi lalu sholat dhuhur dan menunggu sebentar sambil ruang operasinya disiapkan. eniwei, kebiasaan menonton serial kedokteran seperti House dan Grey’s Anatomy membuat ekspektasi saya akan ruang operasi menjadi terlalu tinggi, hehe,, ruang operasi di sini ternyata sederhana sekali dan tidak se-wah ruang operasi di serial tv itu. namun, dokter anestesi dan dokter bedahnya cukup asik dan berhasil membuat saya senyum dan tertawa-tawa di ruang tsb sehingga saya cukup santai dan siap menjalani operasi. naik ke atas meja operasi yang dingin cukup membuat merinding, tapi alunan musik di radio dan suara para dokter cukup menenangkan. obat bius disuntikkan dan saya pun tertidur lelap.

sekitar 1 jam kemudian saya terbangun di ruang operasi. masih setengah sadar dan amat sangat kebelet pipis. suster pun mengambilkan pispot, tetapi saya masih belum bisa pipis, mungkin akibat pengaruh obat bius.

suami pun datang dan saya bersiap untuk dipindahkan ke kamar inap. masih dengan menahan perasaan kebelet 😦

di kamar inap menghabiskan waktu dengan menonton tv dan mencoba gerakan-gerakan sederhana seperti membalikkan badan ke kiri dan ke kanan yang masih terasa kaku dan agak sakit. sampai malam tiba masih belum bisa pipis dan kentut. dan masih belum boleh minum/makan apapun padahal laper berat.

jumat, 18 des 2014

operasi usus buntu

sekitar jam 10 pagi akhirnya bisa turun dari tempat tidur dan berhasil pipis di toilet, huray!! dan sudah boleh minum teh manis, lumayan buat ganjal perut. amat sangat berharap boleh pulang siang/sore ini, tapi kata dokter masih perlu observasi lagi jadi paling cepat baru bisa pulang besok 😦 padahal udah kangen berat sama si anak bayi.

di kamar inap menghabiskan waktu dengan baca buku dan nonton tivi saja. gak bisa tidur siang juga karena tidak terbiasa. sempet dikunjungi oleh temin-temin kantor yang membawakan roti bakar dan kerupuk asinan 😀

oya, karena suami stand by menginap di rs, bapak memutuskan datang ke jakarta dari bandung buat nemenin anak bayi main di rumah.

bum & mbah

jumat sore progress membaik karena sudah bisa kentut dan sudah boleh makan. alhamdulillah 🙂

sabtu, 19 des 2014

hari ini bahagia karena sudah bisa pup, hahaha,, bisa pulang deh siang ini. keluar dari rs sekitar jam 13.30, sampai rumah langsung cium-cium anak bayi 🙂 alhamdulillah,,

oooOOooo

jadi, lesson learnt-nya apa?

sakit usus buntu ini merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan, tapi alhamdulillah bisa dideteksi dini. jujur loh awalnya saya malas untuk memeriksakan diri ke dokter karena rasa sakitnya masih bisa ditahan. tapi dari awal feeling-nya sudah gak enak, jadilah akhirnya periksa ke dokter.

selain itu, adanya asuransi kesehatan dari kantor juga sangat membantu jadinya gak perlu mikir ketika diminta untuk operasi. di sini baru kerasa ya peran asuransi kesehatan karena sakit datangnya tiba-tiba.  oleh karena itu, segeralah daftar bpjs! *eh*

berdasarkan hasil diskusi dengan dokter, penyebab usus buntu ini kemungkinan akibat kebiasaan kurang minum dan bukan akibat biji-biji cabe. harus saya akui bahwa dulu saya memang punya kebiasaan buruk kurang minum. saya baru “rajin” minum air putih semenjak hamil ketika dokter menyatakan bahwa air ketuban saya kurang. jadi, buat teman-teman yang merasa asupan air putihnya kurang, segeralah diubah kebiasannya ya. jangan sampai kena reminder sakit dulu dari tubuh kita 🙂

stay healthy, stay happy!! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “cerita tentang si usus yang buntu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s