manado – bunaken [part 2]

[1 Mei 2008]

Bangun pagi-pagi dengan semangat dan baru menyadari bahwa kamar hotel yang kami tempati amat kecil dengan pemandangan tembok gedung sebelah 😦 Untunglah restoran tempat sarapan berada di lantai paling atas dengan pemandangan pelabuhan dan perahu-perahu kecil. Lumayan untuk menyegarkan mata.

20140818-163606-59766421.jpg

Selesai sarapan kami pun diantar ke pelabuhan tersebut untuk bertemu dengan Frans, diving guide kami, dan untuk menaiki perahu yang akan mengantar kami ke Bunaken. Perahu yang akan kami naiki imut sekali, mirip bentuknya dengan speed boat pada umumnya, tetapi keseluruhan bodinya terbuat dari kayu. Sebelum mesin perahu dinyalakan, Bapak Nakhoda Perahu (BNP) melakukan gerakan yang cukup absurd: menyedot selang yang ada di bagian belakang kapal. Dan ternyata tujuan dari gerakan absurd tersebut adalah untuk mengalirkan solar ke mesin perahu, hoho,, Debus abis!!

Perjalanan  dengan perahu cukup lancar dengan ombak yang tidak terlalu besar. Sempat ada insiden mesin perahu mati di tengah jalan, tetapi masalah terpecahkan dengan BNP yg kembali menyedot selang solar  -_-‘

20140818-164548-60348920.jpg

Sampai di Bunaken, kami menghabiskan waktu dengan foto-foto di pantainya dan leyeh-leyeh di bungalow. Bungalow di Bastianos diving resort cukup bagus, standard bungalow tepi pantai milik Bule lah. Nikmat banget buat santai-santai 🙂 Dan hari pun semakin sempurna dengan makan siang sea food segar. Enaakkkkk !!!

20140818-165802-61082014.jpg

Ketika hari menjelang sore kami memulai pengenalan air untuk persiapan diving keesokan harinya. Mulai dari belajar memakai wet suit dan google serta latihan bernapas menggunakan mulut. Di sesi pengenalan ini pun kami sudah bisa menemukan beberapa bintang laut di bibir pantai. Senang 🙂

[2 Mei 2008]

Pagi dimulai dengan sesi jalan-jalan (lagi) di tepi pantai. Sempat bete ketika melihat banyak sampah yang terbawa oleh air pasang semalam. Konon katanya itu sampah-sampah yang dibuang oleh penduduk Manado dan terbawa arus sampai Bunaken 😦

20140818-164936-60576248.jpg

Pagi menjelang siang kami dibawa diving melihat wall yang terkenal di alam bawah laut Bunaken. Saya yang memang kurang jago berenang ini agak kikuk di bawah air, diving tak tentu arah dan seringkali ditarik-tarik oleh diving guide nya (malu deh :p ). Dinding terumbu karangnya memang cantik dan saya super excited ketika melihat banyak ikan berenang di sekitar kami.

Sorenya kami mengunjungi museum yang ada di Bunaken dimana kami dapat melihat berbagai hewan laut yang diawetkan, termasuk ikan Coelacanth raksasa yang ditemukan di perairan Manado. Selain itu di museum ini pun kami dapat membaca berbagai informasi terkait konservasi terumbu karang.

Hari ini diakhiri dengan sesi api unggun di tepi pantai bersama para penyelam lainnya sambil menikmati langit malam bertabur bintang.

[3 Mei 2008]

Hari ini kami meninggalkan Bunaken dan berencana untuk berjalan-jalan di Manado dan sekitarnya. Setelah menempuh perjalanan laut dengan perahu kecil, kami sampai dengan selamat di Manado dan tanpa ada insiden mesin perahu mati. Alhamdulillah.

Untuk perjalanan di Manado ini kami sudah memesan mobil beserta Supirnya. Sang Supir (SS) ini masih muda, tetapi tidak terlalu banyak cakap sehingga kami berdua yang lebih sering membombardir SS dengan banyak pertanyaan mengenai Manado. Sepanjang perjalanan kami ditemani oleh alunan lagu berbahasa Manado yang kalau didengarkan musiknya sepertinya sih lirik lagunya sedih semua. Entahlah.

Perhentian pertama di Manado adalah Danau Linau di daerah Tomohon. Kami cukup terkejut ketika tahu bahwa harga tiket masuk dibandrol seharga Rp 20,000 per orang. Tak seperti danau lain di Indonesia yang harga tiket masuknya biasanya di bawah Rp 5000 per orang. Namun, ternyata memang area wisata Danau Linau ini dikembangkan dengan sangat apik . Area nya cukup luas dengan rumput yang terpangkas rapi dan jalan setapak yang memadai. Kebersihannya pun sangat terjaga (indikator utamanya adalah toilet yang bersih dan wangi 🙂 ). Di tepi danau terdapat sebuah kafe kecil dimana kita bisa memesan secangkir kopi sambil menikmati pemandangan danau berwarna hijau ini. Satu-satunya hal yang mengganggu adalah aroma belerang yang sangat kuat. Momen tak terlupakan ialah ketika ada sekelompok angsa yang terbang rendah melintasi danau. Magis!

20140818-165159-60719304.jpg

Perhentian berikutnya adalah Bukit Kasih yang dinamai demikian karena di bukit ini terdapat 5 tempat ibadah yang melambangkan kerukunan antara 5 umat beragama yang ada di Indonesia. Konsep dan filosofis dari Bukit Kasih ini sangat bagus, tetapi sayang ke-5 bangunan ibadah tersebut kurang terawat dengan baik. Di sini kami sempat bercengkrama dengan anak-anak Manado yang lucu-lucu ini. Senyumnya bandel-bandel sekali, hihi,,

20140818-165425-60865494.jpg

Perhentian terakhir adalah Danau Tondano, danau terluas di Sulawesi Utara. Mungkin karena danaunya terlalu luas atau karena terlalu ramai, danau ini tidak terlalu menarik bagi kami. Di sini kami hanya menumpang makan ikan bakar dabu-dabu yang rasanya tidak sepedas yang dibayangkan.

[4 Mei 2008]

Pagi-pagi sekali kami terbang kembali ke Balikpapan. Puas sekali bisa mengunjungi Bunaken dan Manado pada weekend getaway ini. Rangkaian pertama dari perjalanan-perjalanan kami berikutnya 🙂

20140818-181237-65557209.jpg

20140818-181357-65637584.jpg

Advertisements

One thought on “manado – bunaken [part 2]

  1. Pingback: manado – bunaken [part 1] | panels of time,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s